Warga Desa Selamat Karena Lihat Buaya Saat Tsunami Banten

Buaya Saat Tsunami Banten – Sebelum saya cerita panjang tentang penampakan buaya di pinggir laut Ujung Kulon, saya akan mulai dari awal perjalanan ke sana. Tsunami yang menerjang pesisir pantai di Provinsi Banten terjadi pada hari sabtu, 22 Desember 2018. Penyebabnya adalah letusan Anak Krakatau di Selat Sunda menghantam daerah pesisir Banten dan Lampung, 426 orang tewas dan 7.202 terluka dan 23 orang hilang akibat peristiwa yang sangat mengerikan ini.

Tsunami menghantam daratan sekitar pukul 21.00 WIB (malam minggu), Saya dan Tim Rescue Komite Kemanusiaan Indonesia baru dapet perintah untuk meluncur ke lokasi hari senin nya tanggal 24 Desember 2018, berangkat agak siang karena harus menyiapkan alat dan bantuan yang ready di kantor membawa 2 mobil termasuk mobil ambulan dan tim medis, kami sampai di Pandeglang sekitar pukul 20.00 WIB dan harus bermalam di jalan dekat dengan posko BPBD Banten. Fyi Target lokasi yang kami tuju adalah Kecamatan Sumur dan Ujung Kulon jadi agak bahaya kalau perjalanan dilakukan malam hari.

Besok pagi setelah kordinasi dengan beberapa relawan yang sudah lebih dulu berada di lokasi, kami berangkat menuju lokasi yang dituju berbekal info yang sangan minim karena dilokasi bencana semua provider telekomunikasi tidak ada yang berfungsi. Target perjalanan siang sudah sampai lokasi tapi qodarullah ternyata ada fenomena baru, ada kemacetan dari dan menuju tempat bencana.

Info tambahan buat temen-temen, Bencana Tsunami di Banten ini terjadi setelah bencana sebelumnya terjadi di Lombok dan Palu, Sulteng. Baru kali ini saya melihat langsung antusias masyarakat yang ingin membantu secara langsung saudara-saudara mereka yang sedang tertimpa musibah. Umumnya untuk lokasi bencana para relawan menggunakan mobil 4×4 karna daerah Pandeglang pedalaman masih banyak jalannya yang hancur, tapi masyallah mereka membawa bantuan membawa mobil-mobil pribadi tipe citycar dan sejenis nya, alhasil jalan menuju ke Kecamatan Sumur macet total karena beberapa kali akan berpapasan dengan truk-turk tronton milik TNI.

Buaya Saat Tsunami Banten
Mobil pengunjung resort yang rusak karna Tsunami Banten.

Saya dan Tim Relawan sampai di Kecamatan Sumur sekitar pukul 17.00 WIB saat itu langit mendung dan Desa-desa di Kecamatan Sumur seperti desa mati tanpa penghuni, perjalanan kami dimulai dari ujung desa di Kecamatan Sumur hingga Ujung Kulon (kalau liat di peta pulau paling ujung di Pulau Banten). Saat itu informasi terakhir yang kami dapet adalah bahwa akan ada Tsunami susulan karena Gunung Anak Krakataw masih meletus.

Bermodal nekat dan pemikiran nasib korban yang menunggu bantuan di Ujung Kulon harus segera mendapat bantuan, kami tetap jalan dengan perasaan takut, khawatir campur aduk. Hampir disemua desa yang kami lewat tidak ada penerangan sama sekali, jadi modal penerangan hanya dari lampu mobil. semakin jauh kami berjalan, semakin gelap jalan yang kami lewati, saat itulah saya merasakan perasaan yang bergitu takut ketika sesekali kami harus melewati jalan yang berada persis di pinggir pantai dengan pemandangan laut yang gelap, kami hanya bisa mendengar desiran ombak yang sangat kencang.

Buaya Saat Tsunami Banten
Desa Taman Jaya, Kec. Sumur rusak parah, lokasinya memang persis di pinggir pantai.

Warga yang desa nya berada di pinggir pantai akan mengungsi ke arah gunung dengan mendirikan tenda-tenda darurat di sana, ada juga yang mengungsi ke desa yang jauh jaraknya dari pinggir pantai. Saya melihat warga di Banten ini cukup guyub karena warga yang mengungsi bisa tinggal di rumah-rumah tetangga desa tanpa harus tidur di tenda darurat yang kalau malam dateng dingin nya bukan main.

Akhirnya kami tiba di satu desa sebelum desa terujung di Pulau Banten, saat itu listrik mati dan kami tinggal disebuah musholla, hati saya masih khawatir sebenarnya, khawatir kalau tiba-tiba Tsunami menerjang ketika kami tidur, tidak ada orang yang bisa kita kabarkan karena semua sinyal hp mati. Alhamdulillah, malam itu kami aman.

Buaya Saat Tsunami Banten
Hujan hampir tiap hari yang cukup menyulitkan para relawan yang membawa bantuan.

Buaya Saat Tsunami Banten

Buaya Saat Tsunami Banten

Pagi nya kami melanjutkan perjalanan ke desa terujung di Ujung Genteng, Pandeglang hingga bertemu dengan warga korban bencana Tsunami dan menyerahkan bantuan yang kami bawa.

Buaya Saat Tsunami Banten

Selain mendistribusikan bantuan, tim pertama yang datang ke lokasi bencana yang biasa disebut tim assesment atau tim advance bertugas mengumpulkan data-data penting seperti jumlah korban, kerusakan bangunan, lokasi yang terkena dampak langsung bencana hingga kondisi korban terbaru, yang nantinya data itu akan diteruskan ke tim 2 yang akan membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan warga korban bencana dan juga akan digunakan untuk pelaporan ke para donatur via jaringan informasi yang dimiliki.

Buaya Saat Tsunami Banten
Salah satu warga Desa Taman Jaya sedang bercerita tentang buaya.

Saat mengumpulkan data-data itulah saya bertemu warga yang cerita kalau sore sebelum Tsunami menerjang desa mereka tiba-tiba muncul beberapa buaya ke pinggir pantai. Menurut warga tersebut desa biasanya sepi setelah jam 8 malam tapi karna kemunculan buaya-buaya itu membuat banyak warga yang masih terbangun dan sempat memberitahu warga lainnya saat Tsunami perlahan datang menerjang desa. Sangat aneh karena buaya itu binatang yang tinggal di darat dan sungai, bukan binatang laut (tolong koreksi kalau saya salah), bukan rahasia lagi sebenarnya bahwa di Banten banyak hal-hal gaib terlebih di daerah pedalaman dan saya pun mengaminkan itu karna keluarga istri saya orang Banten asli.

Selain muncul beberapa saat sebelum Tsunami di pinggir pantai Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, menurut keterangan dari warga, buaya-buaya itu juga pernah muncul di pinggir pantai Desa Ujung Jaya, desa paling buncit di Ujung Kulon, Pandeglang.

Distibusi Bantuan

Selain ke Ujung Kulon Pandeglang distribusi bantuan juga kami perluas ke Desa-desa di pinggir Pantai Anyer, Serang. Dari pinggir Pantai Anyer, saya mendengar dengan jelas suara dentuman letusan gunung Anak Krakataw, mungkin akan biasa aja kalau saya mendengarkan siang hari ketika kita bisa melihat sepanjang pendangan mata ada apa aja di sana, tapi suara letusan itu akan sangan horor menakutkan ketika kita mendengarnya di malam hari saat kita melintasi pinggir pantai, buka jendela liat ke arah laut yang gelap, yang terlihat hanya kilatan cahaya dari langit ke bawah gunung Anak Krakataw.

Akhir 2018 menjadi tahun terberat buat masyarakat Indonesia dan para relawan kemanusiaan, menurut para pakar bencana alam masih akan terus menghantui Indonesia, banyaknya gunung berapi aktif, Tsunami dan gempa bumi yang entah kapan akan terjadi membuat kita harus selalu waspada, belajarlah tentang mitigasi bencana, apa yang harus kita dan keluarga kita lakukan saat bencana-bencana itu terjadi.

Buaya Saat Tsunami Banten

Buaya Saat Tsunami Banten
Petugas PLN yang sedang bekerja membetulkan aliran listrik.

Buaya Saat Tsunami Banten

Buaya Saat Tsunami Banten

Buaya Saat Tsunami Banten

Buaya Saat Tsunami Banten

Buaya Saat Tsunami Banten

Buaya Saat Tsunami Banten

Buaya Saat Tsunami Banten
Salah satu warga yang rumahnya hancur diterjang Tsunami

Buaya Saat Tsunami Banten

Freelance Photographer

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.